Virus hepatitis C ditemukan sekitar tahun 1987. Sebelumnya hanya ada 2 jenis hepatitis yang diketahui, yaitu hepatitis A dan hepatitis B. Hal itulah yang menyebabkan hepatitis C sempat disebut sebagai virus non A – non B.

Hepatitis C adalah salah satu dari sekian banyak jenis penyakit hepatitis, atau penyakit gangguan fungsi hati. Virus hepatitis C dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker hati. Jika dibandingkan dengan hepatitis B, hepatitis C lebih sering menyebabkan penyakit menahun.

Pada umumnya seseorang yang menderita penyakit hepatitis akan menderita gejala seperti berikut: letih, demam, mual, kurang nafsu makan, warna urin keruh (seperti air teh), dan nyeri perut pada bagian kanan atas. Selain itu kuku, kulit, bola mata yang berwarna putih akan berubah menjadi berwarna kekuningan. Warna kuning ini timbul akibat adanya cairan empedu yang berlebihan di dalam darah. Oleh karena itu hepatitis C disebut juga sebagai sakit kuning.

Hepatitis C sering terjadi tanpa gejala. Menurut penelitian, hanya 5% dari penderita hepatitis C mengalami gejala-gejalanya. Jika timbul gejala, kadang hilang dan kadang timbul. Selain itu kadar SGOT (enzim yang terdapat di otot jantung dan hati) dan juga SGPT (enzim yang terdapat di sel-sel hati) seringkali terlihat normal. Padahal jika kadar kedua enzim itu naik, dapat dideteksi terjadinya gangguan hati. Tak heran oleh karena itu, penyakit ini sering sekali terabaikan dan penderita tanpa sadar menularkannya pada orang lain.

Hamil dan Hepatitis C (2)

Mereka yang beresiko tertular hepatitis C adalah:

1. Pecandu narkoba, yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.

2. Orang yang menerima transfusi darah. Darah yang digunakan untuk transfusi tidak diperiksa terlebih dahulu.

3. Orang yang membuat tato atau tindik dengan menggunakan benda-benda tajam yang tidak steril.

4. Berhubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Sehingga terjadi kontak darah antara yan gterinfeksi dan yang tidak.

5. Orang yang sedang melakukan cuci darah.

6. Orang yang sedang menerima cangkok organ.

7. Pekerja kesehatan, seperti dokter, perawat, dan lainnya.

Ibu yang terkena penyakit hepatitis C ini tidak akan menularkan bayinya. Penyakit ini bukan jenis penyakit yang genetik. Namun sebaiknya ibu hamil yang mengidap hepatitis C mengkonsultasikan keadaan kesehatannya pada dokter kandungan.

Ibu juga tidak boleh mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini karena akan beresiko pada janin, dan menyebabkan bayi lahir cacat hingga mengalami keguguran. Ibu harus menjaga kesehatannya dengan cara banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi. Dengan demikian, diharapkan kekebalan tubuhnya akan terbentuk.

Pengobatan hepatitis pada ibu akan diberikan setelah persalinan dan kondisi ibu sudah pulih benar. Namun umumnya, ibu yang mengidap hepatitis C tidak dianjurkan untuk hamil selama menjalani terapi pengobatan dan 6 bulan setelah pengobatan terakhir.

• Published: www.ApotekHerbal.com
• Sumber: Victor-health

 

 


Free Dreamweaver Templates | Cheap Web Hosting | Small Business Web Hosting